Pages

Kamis, 01 Oktober 2015

Bagaimanakah Tipe Suami Romantis

Beberapa waktu lalu saya membuat status di situs jejaring sosial facebook, saya meng-akronimkan kata Romantis dengan Rokok Makan Gratis. Kali ini saya akan membahas makna ‘romantis’, tapi versi saya sendiri.
Bagi saya panggilan ‘sayank’ yang kata lebaynya jadi ‘chayank’ kepada pasangan tidak selalu bentuk dari tipe suami romantis. Begitupula dengan pangilan dek, cinta, manis dan sebagainya. Tetapi itu hanyalah kata prikitiu dari seorang suami.
Bisa jadi itu hanya sebuah panggilan kedok, atau topeng seorang suami, karena tak jarang seorang suami yang mengumbar kata-kata panggilan manis, indah, mesra, justru bertingkah yang melanggar sumpah dan janji yang pernah dia ikrarkan pada saat akad nikah.
Dan bagi saya, substansi sebenarnya dari kata romantis adalah dalam bentuk sikap dan perilaku, setia atau tidak melakukan tindakan dan hal-hal yang melawan ikrar pernikahan. Dan wajib dimengerti, bahwa apa yang diucapkan dalam akad nikah sebenarnya adalah sumpah dan jani terhadap Tuhan.
Jadi pengkhiatanan seorang suami terhadap istri, sebenarnya adalah pengkhianatan terhadap Tuhan. Jadi, bagi para istri yang dikhianati suami jangan merasa kecewa, atau merasa dikecewakan. Karena sebenarnya suami Anda telah mengecewakan Tuhan.
Dan sebaiknya yang Anda lakukan adalah, berdoalah kepada Tuhan agar suami Anda diampuni atas kekhilafannya itu.
 

Senin, 28 September 2015

Kami Memilih Jadi Keluarga Ndeso

Meski ayahnya seorang jurnalis, yang sangat akrab dan dekat dengan teknologi, tapi keluarga kami merasa sangat terganggu dengan yang namanya ‘TELEVISI’. Dan kami merasa sangat ‘takut’ dengan siaran-siaran televisi.
Bagi kami, televisi bukan symbol modernitas, bukan hiburan wajib bagi keluarga. Tapi kami tegaskan itu adalah musuh besar bagi keluarga kecil kami.
Kenapa?
Sebelum memasukan anak pertama kami ke taman kanak-kanak, dia sangat agresif dalam artian aktif berkreasi, memiliki daya tangkap terhadap berbagai pesan kehidupan kami.
Suatu ketika, Azzam berkata kepada teman main seusianya, sama-sama 3 tahun, “Ayahku mau beli tivi,”. Sebagai orang tua, siapa yang tega, melihat anaknya berdiri disamping pintu rumah tetangga, sambil sesekali mengintip ke dalam rumah tetangga untuk melihat televisi.
Dengan diliputi perasaan yang sangat sulit diungkapkan, baik dengan perkataan maupun tulisan, akhirnya saya menelepon kawan, yang  telah beberapa bulan menawarkan televisi 30 inc secara Cuma-Cuma kepada saya, untuk meng-iyakan pemberian itu.
“Iyo cak, tipine sido tak pek,”
Akhirnya dengan diantar kawan lainnya, kuambil televise besar itu untuk kubawa pulang, dan sebelumnya singgah dirumah kawan lainnya untuk mengambil antenna, yang juga diberikan dengan Cuma-cuma.
Senyum lebar sambil berjingkrak-jingkrak diatas kasur, begitulah ekspresi  Azzam saat melihat dan mendengar suara dari televise diruang tidur sekaligus ruang keluarga kami.  Hari berganti hari, saya merasakan ada sesuatu yang hilang dari hubunganku dengan putraku.
Yah…banyak hal indah dan konyol dalam keseharian kami yang telah dirampas siaran-siaran televise itu. Bukan hanya itu, daya tangkap terhadap pelajaran yang kami sampaikan dalam permainan, candaan dan gurauan kami, telah dikalahkan oleh adegan filem kartun dan iklan produk.
Lebih bahaya lagi, waktu untuk mengistirahatkan aktifitas otak anakku juga jadi lebih pendek oleh jadwal filem kartun, mulai subuh hingga malam hari. Dan..kami putuskan, MATIKAN TELEVISI.


baca juga : sampah